Asslamu'alaikum Wr. Wb. Sanak ==>> Selamat Datang di "Catatan Harianku"... Tampi Asih sampun mampir lek driki... mohon komennya gih...!!!

22 Jul 2012

FALSAFAH PROSES



Oleh: 
Muhammad Zuhri

Bismillahirrahmanirrahim

            Sejak manusia lahir hingga meninggalkan kehidupan ini, ia berada dalam suatu proses menuju pada kesempurnaan diri. Menuju pada pemberian makna kehadiran diri dalam ruang lingkup kehidupan. Hidup bukanlah untuk mencari suatu sarana. Seandainya tak ada sesuatu yang dicari yang lebih tinggi dari sarana, yaitu makna keberadaan. Makna keberadaan manusia bukanlah kodrat yang ditetapkan Allah dalam diri, seperti ketinggian IQ, EQ, bakat yang diperoleh dari ayah ibu, etnis atau rasnya, apakah ia lahir dalam suatu struktur sosial budaya yang tinggi atau rendah. Makna keberadaan manusia bukanlah itu semua, melainkan ketinggian makna kehadirannya. Yaitu apa yg diungkapkan oleh setiap individu dalam ruang lingkup yang terjamah olehnya dalam proses menghayati hidup. Tak peduli apakah ia ada di dalam struktur budaya yang maju atau sederhana. Adalah bukan menjadi urusan kita apakah kita hidup dalam suatu lingkup budaya yang maju atau berkembang. Kita tak berurusan dengan itu, dan Tuhan tidak mengurusi hal itu. Melainkan kita diperankan di mana saja. Kadang2 kita ditempatkan dalam tempat yang sudah maju, sedang berkembang, atau bahkan primitif dalam pencapaian makna kehadiran. Yang penting bagi kita adalah ketika kita hadir dalam suatu ruang lingkup, sanggupkah kita memerankan diri kita? Apakah yang kita berikan pada ruang lingkup kita sudah sesuai dengan perintah2 Tuhan. Apakah perintah Tuhan itu? Perintah Tuhan adalah situasi dan kondisi yang melanda kita setiap hari. Situasi dan kondisi dimana kita berada, yang tak diinginkan oleh setiap individu dalam rangka mengembangkan diri, itu adalah perintah Tuhan. Ketika kita melihat sesuatu yang bobrok harus kita perbaiki, yang tak qualified harus kita urusi, yang tersesat harus kita beri petunjuk, yang rusak harus kita perbaiki. Merespon perintah Tuhan melewati situasi dan kondisi dimana kita berada adalah melaksanakan amer (perintah) Tuhan, yaitu beraktual. Bertindak keluar, yaitu mengisi acara hidup kita, proses kehidupan kita. Sekaligus ketika itu menciptakan sejarah pribadi kita.

Maka kita membutuhkan sarana hidup bukan agar kita kenyang, atau supaya bisa tidur enak. Tapi karena kita memiliki beban, memiliki tanggungan, merasa diperintah Tuhan memperbaiki diri dan lingkungan agar dalam hidup kita mendapat kemerdekaan dalam mencapai apa yang kita tuju. Di sini kelihatan gaya hidup seorang beriman, yaitu ia mencari sarana bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan fisikalnya, melainkan agar ia dapat melaksanakan perintah Tuhan. Sedangkan perintah Tuhan yang betul2 kondisional dan situasional tak diceritakan dalam Kitab2 Suci. Tapi Kitab Suci memberitahukan kita bahwa Allah menampilkan dan menjelaskan ayat2nya di dalam Al-Afaq (di dalam ruang semesta alam), dan di dalam diri kita, untuk kita respon dan kita tanggapi dengan positif kemauan Tuhan tersebut. Dengan demikian kehidupan seorang mukmin bukanlah kehidupan yang berhubungan dengan duniawi. Duniawi hanyalah sarana. Kita sedang berhadapan dengan Allah dalam melaksanakan perintah2Nya sesuai dengan peran kita mewakili-Nya di muka bumi.




Dalam proses hidup ini, tidak ada manusia yang baru mulai melangkahkan kaki menempuh proses, melainkan setiap manusia sudah berada dalam tengah2 perjalanan. Sebagian manusia ketika berada di tengah perjalanan, ia sadar bahwa ia didatangkan oleh Tuhan untuk memperbaiki lingkungannya dan dirinya sekaligus. Sebagian manusia lain, hidupnya hanya dimotivasi oleh keinginan2 utk memperbanyak hal2 yang diduga membahagiaan dan menyenangkan, tapi hasilnya hanya membebani diri untuk memelihara dan merawatnya. Kata2 proses hanya ada dalam makhluk hidup. Proses bukanlah berpindahnya sebuah benda mati dari satu titik keruangan ke titik keruangan yang lain. Proses itu adalah bagi makhluk yang hidup, jadi proses mengandaikan tujuan. Di dalam proses menyimpan arti bahwa ada sesuatu yang dituju, karena ia makhluk hidup. Apakah yang dituju ketika manusia berproses dari lahir menuju kematian? Kalau tak ada yg dituju alangkah nistanya karena kehidupan itu hanyalah sebuah cahaya yang sebentar saja bagaikan kilat di angkasa yang gelap gulita. Terang sebentar kemudian gelap lagi. Saat ini kita berada di tengah2 kilat  yang sebentar itu yang kemudian besok gelap lagi ketika kita sudah meninggal, dan yang dulu juga gelap ketika kita belum lahir di dunia. Kehadiran manusia ini cuma sebentar bagaikan kilat di tengah malam gelap gulita yang dibatasi oleh dua samudra kegelapan sebelum lahir dan setelah mati. Ini sangat penting, karena itulah harga diri kita bila kita bisa mendayagunakan diri kita sebaik mungkin. Meresponnya dengan sebaik mungkin. Jadi kehidupan itu adalah cahaya terang yang hanya sekilas di antara dua samudra kegelapan sebelum kita lahir dan setelah kita mati.

Bagaimanakah dalam waktu berperan yang sebentar ini kita bisa menerangi kegelapan yang sebelum dan sesudah itu? Ini adalah masalah agama. Inilah bedanya falsafah dengan agama. Falsafah hanya bisa menerangkan hal antara lahir dan mati. Yang bisa ditangkap hanya berupa kenyataan. Setelah manusia mati, ia tak bisa menangkap apa2. Sebelum lahir ia hanya hipotesa2, setelah mati ia hanya prasangka2. Tetapi agama ingin memberi makna kehadiran yang hanya sekilas itu untuk menerangi samudra kegelapan sebelum hidup, yaitu ketika kita lahir sampai ketika Allah menciptakan alam, dan menerangi samudra kegelapan setelah hidup, yaitu ketika kita mati sampai saat kita dibangkitkan. Bagaimana dua samudra kegelapan itu menjadi terang oleh kehadiran yang hanya sekilas ketika kita hidup, itulah misi agama. Adapun kita meminjam kata falsafah, yaitu falsafah proses untuk judul topik ini, itu hanyalah sekedar sebagai bahasa. Falsafah bukan tujuan, falsafah hanya sebagai bahasa untuk membahasakan kebenaran. Jadi kalau kita lihat tema pembicaraan ini adalah "Falsafah Proses" bukan berarti falsafah proses pada umumnya, tapi falsafah proses menurut pandangan hidup kaum Muslimin. Jelasnya ada sesuatu yang tidak kita tahu, yaitu sebelum dan setelah kehidupan. Semua ilmu telah berlomba2 untuk mengungkapkan hal2 yang sudah lalu namun belum ada satu pun yang  akurat. Seperti misalnya pendapat bahwa manusia itu asalnya dari simpanse, dari binatang bersel satu, dan sebagainya, yang kesemuanya hanyalah dugaan semata. Dan demikian juga pendapat bahwa setelah kematian manusia, segalanya sudah selesai, sudah tidak ada lagi kehidupan. Para penyimpul tersebut semua berada dalam kegelapan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
; Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...